25 Agustus 2009

Pengantar Ilmu Hukum

BAB I
PENDAHULUAN

Sejak dahulu, manusia hidup bersama, berkelompok membentuk masyarakat tertentu, mendiami suatu tempat, dan menghasilkan kebudayaan sesuai dengan keadaan dan tempat tersebut. Manusia secara kodrati adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri, namun manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Tiap manusia mempunyai sifat, watak, dan kehendak sendiri. Namun dalam masyarakat manusia mengadakan hubungan satu sama lain, mengadakan kerjasama, tolong menolong, bantu membantu untuk memperoleh keperluan hidupnya. Setiap manusia memiliki kepentingan, dan acap kali kepentingan tersebut berlainan bahkan ada juga yang bertentangan, sehingga dapat menimbulkan pertikaian yang mengganggu keserasian hidup bersama. Apabila ketidak-seimbangan perhubungan masyarakat yang menjadi perselisihan itu dibiarkan, maka mungkin akan timbul perpecahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, dari pemikiran manusia dalam masyarakat dan makhluk sosial , kelompok manusia menghasilkan suatu kebudayaan yang bernama kaidah atau aturan atau hukum tertentu yang mengatur segala tingkah lakunya agar tidak menyimpang dari hati sanubari manusia.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kebudayaan manusia mengalami perkembangan pula. Termasuk perkembangan hukum. Peradaban yang semakin berkembang membuat kehidupan manusia sangat membutuhkan aturan yang dapat membatasi prilaku manusia sendiri yang telah banyak menyimpang seiring dengan perkembangan pemikiran manusia yang semakin maju.

Aturan atau hukum tersebut mengalami perubahan dan terus mengalami perubahan yang disesuaikan dengan kemajuan zaman. Untuk itu, suatu negara hukum sangat perlu mengadakan pembangunan terutama di bidang hukum. Mengenai pembangunan hukum ini tidaklah mudah dilakukan. Hal ini disebabkan pembangunan hukum tersebut tidak boleh bertentangan dengan tertib hukum yang lain.

BAB II
ISI
Pengertian Hukum

Mengenai apakah hukum itu, menjadi pertanyaan pertama setiap orang yang mulai mempelajari tentang hukum. Sebenarnya sangat sulit untuk memberikan definisi tentang hukum. Karena menurut Prof. Mr. Dr. L.J. Van Apeldoorn dalam bukunya berjudul “Inleiding tot de studie van het Nederlandse Recht” adalah tidak mungkin memberikan suatu definisi tentang apakah yang disebut hukum itu. Hampir semua sarjana hukum memberikan pembatasan mengenai hukum yang berlainan. Beberapa ahli seperti Aristoteles, Grotius, Hobbes, Philip S. James, dan Van Vollenhoven memberikan definisi hukum yang berbeda-beda. Misalnya menurut Immanuel Kant bahwa hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan.

Menurut Ultrecht, hukum adalah peraturan yang berisi perintah dan larangan yang mengatur masyarakat, sehingga harus dipatuhi. Menurut Kansil, hukum adalah peraturan hidup yang bersifat memaksa. Dan menurut Mochtar Kusumaatmadja, bahwa hukum yang menandai tidak saja merupakan keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, melainkan juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang mewujudkan kaidah-kaidah itu dalam masyarakat.

Hukum sebagai kaidah atau aturan yang mengatur kehidupan masyarakat memiliki beberapa pengertian yang bersumber dari para ahli. Ada juga beberapa sarjana dari Indonesia yang memberikan rumusan tentang hukum itu. Diantaranya adalah :

S.M. Amin, S.H.

Dalam bukunya yang berjudul “Bertamasya ke Alam Hukum”, bahwa hukum adalah kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi itu disebut hukum dan tujuan hukum itu adalah mengadakan ketatatertiban dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara.

J.C.T. Simorangkir, S.H. dan Woerjono Sastropranoto, S.H.

Dalam buku yang disusun bersama berjudul “Pelajaran Hukum Indonesia” bahwa hukum adalah peraturan-peraturan tang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibatkan diambilnya tindakan, yaitu dengan hukuman tertentu.

M.H. Tirtaatmadjadja, S.H.

Dalam bukunya “Pokok-pokok Hukum Perniagaan” bahwa hukum adalah semua aturan (norma) yang harus diturut dalam tingkah laku tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian, jika melanggar aturan-aturan itu, akan merugikan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan kemerdekaannya, didenda dan sebagainya.

Ciri-ciri Hukum

Agar dapat mengetahui dan mengenal apakah hukum itu, sebelumnya harus dapat mengetahui ciri-ciri hukum, diantaranya adalah
1. Bahwa hukum itu merupakan aturan yang berisi perintah atau larangan yang ditujukan
kepada objek hukum.
2. Perintah dan/ atau larangan itu harus dipatuhi oleh setiap orang.
Bahwa hukum itu harus dipatuhi setiap orang, karena telah menjadi kesepakatan bersama di
dalam kontrak social. Dan bagi objek hukum yang melanggarnya akan mendapat sanksi
berdasarkan hukum yang berlaku.
Setiap orang wajib bertindak sedemikian rupa dalam masyarakat, sehingga tata tertib dalam masyarkat itu tetap terpelihara dengan sebaik-baiknya.

Unsur-unsur, Sifat, dan Tujuan Hukum

Dari beberapa perumusan tentang hukum yang telah diberikan para Sarjana Hukum Indonesia, dapat diambil kesimpulan, bahwa hukum itu meliputi beberapa unsur, yaitu :

Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan bermasyarakat.
Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib.
Peraturan itu bersifat memaksa.
Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas.
Adanya proses untuk mewujudkan kaidah, dan asas yang tertulis/ tidak tertulis
Dilihat dari unsur-unsurnya, maka sifat dari hukum adalah mengatur dan memaksa. Ia merupakan peraturan-peraturan hidup kemasyarakatan yang dapat memaksa orang supaya mentaati tata-tertib dalam masyarakat serta memberikan sanksi yang tegas (berupa hukuman) terhadap siapa saja yang tidak mau patuh mentaatinya.
Untuk menjaga agar peraturan-peraturan hukum itu dapat berlangsung terus dan diterima oleh seluruh anggota masyarakat, maka peraturan hukum yang ada harus sesuai dan tidak boleh bertentangan dengan asas-asas keadilan dari masyarakat tersebut. Dengan demikian, tujuan hukum itu adalah menegakkan keadilan, membuat pedoman, dan bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu harus pula bersendikan pada keadilan. Selain itu, dapat pula disebutkan bahwa hukum menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak menjadi hakim atas dirinya sendiri (eigenrichting is verboden), tidak mengadili dan menjatuhi hukuman terhadap pelanggaran hukum terhadap dirinya. Namun tiap perkara harus diselesaikan melalui proses pengadilan, dengan perantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
Teori-teori tentang tujuan hukum :
Teori etika/ etis, yaitu yujuan hukum semata-mata untuk mencapai keadilan. Menurut Ulpianus, keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan setiap orang apa yang semestinya. Aristoteles membagi kedilan menjadi dua, yaitu keadilan distributif (keadilan yang diperoleh berdasarkan jasanya, yang hubungannya dengan masyarakat (Negara)), dan keadilan kumulatif (keadilan yang didasarkan pada penyamarataan hubungan individu).
Teori utilitas, yaitu hukum itu bertujuan untuk kemanfaatan/ faedah orang terbanyak dalam masyarakat.
Teori campuran, teori ini merupakan gabungan antara teori etis dengan teori utilitas, yaitu tujuan hukum tidak hanya untuk keadilan semata, tetapi juga untuk kemanfaatan orang banyak.
Teori terakhir. Yaitu tujuan hukum itu semestinya ditekankan kepada fungsi hukum yang menurutnya hanya untuk menjamin kepastian hukum.

Sumber-sumber Hukum
Yang dimaksud dengan sumber hukum adalah segala apa yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yaitu aturan yang kalau dilanggar akan mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata.
Sumber hukum dapat ditinjau dari segi material dan segi formal.
1.Sumber-sumber hukum material, dapat ditinjau dari barbagai sudut misalnya dari sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat, dsb.
2.Sumber-sumber hukum formal, antara lain adalah :
Undang-undang (statute). Adalah suatu peraturan negara yang mempunyai kekuatan hukum mengikat, diadakan dan dipelihara oleh negara.
Kebiasaan (costum). Adalah perbuatan manusia yang dilakukan berulang-ulang.
Keputusan-keputusan hakim (Jurisprudentie). Adalah keputusan hakim terdahulu yang sering diikuti dan dijadikan dasar keputusan oleh hakim kemudian mengenai masalah yang sama.
Traktat (treaty). Adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih yang juga mengikat warganegara-warganegara dari negara-negara yang bersangkutan.
Pendapat sarjana hukum (doktrin). Adalah pendapat para sarjana hukun ternama yang juga mempunyai kekuasaan dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh hakim.

Mazhab-mazhab Ilmu Pengetahuan

1. Mazhab Hukum Alam
Ada tiga tokoh dalam mazhab hukumalam, yaitu Aristoteles, Thomas van Aquino, dan Grotius. Aristoteles membagi dua bagian hukum, yaitu hukum yang dibuat oleh penguasa Negara, dan hukum yang dianggap baik pleh manusia itu sendiri. Hukum alam adalah hukum yang oleh orang-orang berpikiran sehat dirasakan sebagai selaras dengan kodrat alam. Menurut Thomas van Aquino (1225-1247) bahwa segala kejadian di dunia ini diperintah dan dikemudikan oleh suatu “Undang-undang abadi” (“Lex eternal”), yang menjadi dasar kekuasaan dari peraturan-peraturan lainnya. Lex Eterna ini ialah kehendak dan pikiran Tuhan yang menciptakan dunia ini. Manusia dikaruniai Tuhan dengan kemampuan berpikir dan kecakapan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mengenal berbagai peraturan perundangan yang langsung berasal dari “Undang-undang abadi” itu, dan yang oleh Thomas van Aquino dinamakan “HukumAlam” (“Lex naturalis”).

Hukum alam tersebut hanyalah memuat asas-asas umum seperti misalnya :
Berbuat baik dan jauhilah kejahatan.
Bertindaklah menurut pikiran sehat
Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

Menurut Hugo de Groot (abad 17, seorang penganjur hukum alam), hukum alam adalah pertimbangan pikiran yang menunjukan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Hukum alam itu merupakan suatu pernyataan pikiran (akal) manusia yang sehat mengenai apakah suatu perbuatan sesuai dengan kodrat manusia, dank arena itu apakah perbuatan tersebut diperlukan atau harus ditolak.

2.Mazhab Sejarah
Tokoh dalam mazhab sejarah yaitu Friedrich Carl von Savigny (1779-1861). Von Savigny berpendapat bahwa hukum itu harus dipandang sebagai suatu penjelmaan dari jiwa atau rohani suatu bangsa; selalu ada suatuhubungan yang erat antara hukum dengan kepribadian suatu bangsa. Hukum bukan diciptakan pleh orang, melainkan tumbuh sendiri di tengah-tengah rakyat; hukum itu adalah penjelmaan dari kehendak rakyat, yang pada suatu saat juga akan mati apabila suatu bangsa kehilangan kepribadiannya.
Menurut pendapat tersebut, jelaslah bahwa hukum itu merupakan suatu rangkaian yang tidak terpisahkan dari sejarah suatu bangsa. Aliran yang menghubungkan hukum dengan sejarah dinamakan “Mazhab Sejarah”. Mazhab sejarah itu menimbulkan hukum positif (Ius Constitutum).

Ada beberapa kebaikan dan keburukan dari mazhab sejarah. Kebaikannya antara lain:
Meningkatkan penghargaan nilai-nilai budaya bangsa sendiri
Menaikan derajat kebiasaan hukum
Melihat hukum sebagai kenyataan sosial

Membuktikan bahwa logika bukan satu-satunya sumber pemikiran hukum

Dan keburukannya antara lain:
Tidak memperhatikan arti pentingnya peraturan perundangan
Perkembangan hukum menjadi lambat
Tidak memberikan kepastian hukum
Sulit menentukan yang mana hukum dan mana yang bukan hukum
Tidak dapat menerangkan jiwa bangsa itu sendiri


3.Teori Teokrasi (Kedaulatan Tuhan)

Pada masa lampau, di Eropa para ahli filosof menganggap dan mengajarkan bahwa hukum itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, dan oleh karena itu, maka manusia diperintahkan oleh Tuhan untuk tunduk pada hukum. Berhubung peraturan perundangna itu ditetapkan oleh penguasa Negara, maka oleh teori Teokrasi diajarkan bahwa para penguasa Negara itu mendapat kuasa dari Tuhan; seolah-olah para Raja dan penguasa lainnya merupakan wakil Tuhan. Teori Teokrasi ini di Eropa Barat diterima umum hingga zaman Reinassance.


4.Teori Kedaulatan Rakyat
Menurut aliran rasionalisme ini, bahwa Raja dan penguasa Negara lainnya memperoleh kekuasaannya itu bukan dari Tuhan, tetapi dari rakyatnya. Pada abad pertengahan diajarkan bahwa kekuasaan Raja itu berasal dari suatu perjanjian antara Raja dengan rakyatnnya. Kemudian pada abad 18, J.J.Rousseau memperkenalkan teorinya bahwa dasar terjadinya suatu Negara ialah “Perjanjian masyarakat” (Contrat Social”) yang diadakan oleh dan antara anggota masyarakat untuk mendirikan suatu Negara.


5.Teori Kedaulatan Hukum
Tokoh dari aliran ini adalah Prof. Mr H. Krabbe dan Leon Duguit. Menurut Krabbe, hukum hanyalah apa yang memenuhi rasa keadilan orang terbanyak yang ditundukan kepadanya. Karena sifatnya yang berusaha mencapai keadilan yang setinggi-tinginya, maka hukum itu wajib ditaati oleh manusia. Hukum itu ada, karena anggata masyarakat mempunya perasaan bagaimana seharusnya hukum itu. Hanyalah kaidah yang timbul dari perasaan hukum anggota suatu masyarakat, mempunyai kewibawaan/ kekuasaan.

6.Asas Keseimbangan
Kranenburg, murid dari dan pengganti Prof. Krabbe berusaha mencari dalil yang menjadi dasar berfungsinya kesadaran hukum orang. Dalil tersebut dirumuskan oleh Kranenburg sebagai berikut: tiap orang menerima keuntungan atau mendapat kerugian sebanyak dasar-dasar yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dalil ini oleh Kranenburg dinamakan asas keseimbangan.

Penemuan Hukum
Akibat perkembangan masyarakat, maka perkembangan hukum berjalan seiring sejalan. Hakim merupakan salah satu faktor pembentukan hukum. Badan Legislatif menetapkan peraturan yang berlaku sebagai peraturan umum, sedangkan pertimbangan dalam pelaksanaan hal-hal konkret diserahkan kepada hakim, sebagai pemegang kekuasaan Yudikatif.
Yang dilakukan hakim yaitu :
1)Konstruksi hukum. Misalnya pada pasal 1576 tentang jual beli “Koop Break Geen Huur”
2)Penafsiran hukum. Ada beberapa metode penafsiran, yaitu
Penafsiran tata bahasa, yaitu penafsiran yang berdasarkan ketentuan UU yang berpedoman pada perkataan.
Penafsiran sahih, yaitu penafsiran yang pasti terhadap arti kata-kata itu sebagaimana yang telah diberikan oleh pembentuk UU.
Penafsiran historis, yaitu penafsira yang berdasarkan sejarah hukum dan UU-nya.
Penafsiran sistematis, yaitu penafsiran menilik susunan yang berhubungan dengan bunyi pasal-pasallainnya baik dalam UU itu, maupun dengan UU yang lainnya.
Penafsiran Nasional, yaitu penafsiran menilik sesuai tidaknya dengan sistem hukum yang berlaku.
Penafsiran teleologis, yaitu penafsiran dengan mengingat maksud dan tujuan undang-undan itu.
Penafsiran ekstensif, yaitu memberi tafsiran dengan memperluas arti kata-kata dalam peraturan itu.
Penafsiran restriktif, yaitu penafsiran dengan membatasi (mempersempit) arti kata-kata dalam peraturan itu.
Penafsiran analogis, yaitu memberi tafsiran pada suatu peraturan hukum dengan memberi ibarat pada kata-kata tersebut sesuai dengan asas hukumnya.

Penafsiran a contrario, yaitu suatu cara menafsirkan undang-undang yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang dihadapi dan soal yang diatur dalam suatu pasal undang-undang.

Macam-macam Pembagian Hukum
1. Menurut sumbernya :
a. Hukum undang-undang, yaitu hukum yang tercantum dalam peraturan perundangan.
b. Hukum adat, yaitu hukum yang terletak dalam peraturan-peraturan kebiasaan.
c. Hukum traktat, yaitu hukum yang ditetapkan oleh Negara-negara suatu dalam perjanjian
Negara.
d. Hukum jurisprudensi, yaitu hukum yang terbentuk karena putusan hakim.
2. Menurut bentuknya :
a. Hukum tertulis, yaitu hukum yang dicantumkan pada berbagai perundangan
b. Hukum tidak tertulis (hukum kebiasaan), yaitu hukum yang masih hidup dalam keyakinan
masyarakat, tapi tidak tertulis, namun berlakunya ditaati seperti suatu peraturan
perundangan.
3. Menurut tempat berlakunya :
a. Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku dalam suatu Negara.
b. Hukum internasional, yaitu yang mengatur hubungan hubungan hukum dalam dunia
internasional.
c. Hukum asing, yaitu hukum yang berlaku dalam Negara lain.
d. Hukum gereja, yaitu kumpulan norma-norma yang ditetapkan oleh gereja.

4. Menurut waktu berlakunya :
a. Ius constitutum (hukum positif), yaitu hukum yang berlaku sekarang bagi suatu masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu.
b. Ius constituendum, yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada masa yang akan datang.
c. Hukum asasi (hukum alam), yaitu hukum yang berlaku dimana-mana dalam segala waktu dan untuk segala bangsa di dunia.
5. Menurut cara mempertahankannya :
a. Hukum material, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur kepentingan dan hubungan yang berwujud perintah-perintah dan larangan.
b. Hukum formal, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur tentang bagaimana cara melaksanakan hukum material
6. Menurut sifatnya :
a. Hukum yang memaksa, yaitu hukum yang dalam keadaan bagaimanapun mempunyai paksaan mutlak.
b. Hukum yang mengatur, yaitu hukum yang dapat dikesampingkan apabila pihak-pihak yang bersangkutan telah membuat peraturan sendiri.
7. Menurut wujudnya :
a. Hukum obyektif, yaitu hukum dalam suatu Negara berlaku umum.
b. Hukum subyektif, yaitu hukum yang timbul dari hukum obyektif dan berlaku pada orang tertentu atau lebih. Disebut juga hak.
8. Menurut isinya :
a. Hukum privat, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan yang lain dengan menitik beratkan pada kepentingan perseorangan.
b. Hukum publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara Negara dengan alat kelengkapannya ata hubungan antara Negara dengan warganegara.

Kaidah/ Norma
Kaidah atau norma hukum adalah peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam hidup bermasyarakat yang berasal dari hati sanubari manusia.

Macam-macam norma :
1) Norma agama, yaitu peraturan hidup yang diterima sebagai perintah-perintah, larangan-larangan, dan anjuran yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
2) Norma kesusilaan, yaitu peraturan yang dianggap sebagai suara hati sanubari manusia, yang diikuti dan diinsyafi oleh setiap orang
3) Norma kesopanan, yaitu peraturan hidup yang timbul dari pergaulan hidup segolongan orang.
4) Norma hukum, yaitu peraturan-peraturan yang timbul dari norma hukum, dibuat oleh penguasa, dan dipertahankan dengan segala paksaa oleh alat-alat Negara.


BAB III
PENUTUP


Dari uraian singkat materi mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum diatas, disimpulkan bahwa pengertian hukum adalah kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi yang bertujuan menjaga ketertiban pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban tetap terpelihara.
Yang dimaksud dengan sumber hukum adalah segala apa yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yaitu aturan yang kalau dilanggar akan mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata.
Hukum memiliki ciri-ciri, unsur-unsur, sifat, dan tujuan hukum. Mazhab ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar bagi penemuan hukum, yang memiliki pengertian yang dijelaskan oleh para ahli hukum.

Dari ciri-ciri hukum disebutkan bahwa sanksi terhadap pelanggaran hukum adalah tegas, maka dari itu setiap orang wajib mentaati hukum, agar senantiasa tercipta kehidupan yang aman dan damai.

20 Juni 2009

PEJABAT STRUKTURAL FH UKI 2009-2013

DEKAN : Dr. BARITA SIMANJUNTAK, SH.,MH.
SEKRETARIS FAKULTAS : HENRY HASIBUAN, SH., MH.
KETUA PROGRAM STUDI : ANTON REINHART, SH.,MH.

KEPALA BAGIAN :
Hubungan Sesama Anggota Masyarakat / Perdata : Etty Sutanto, SH.
Hukum dan Pencegahan,Penanggulangan Kejahatan /Pidana : Richard J. Sahulata, SH.,MH.
Hubungan Negara dan Masyarakat (HAN) : TM. Hutabarat, SE.,SH.,M.Si.
Hubungan Negara dan Ketatanegaraan (HTN) : Max Boboy, SH., MH.
Hubungan Transnasional (Hukum Internasional) : Sri Nurul Ribawaty, SH., L.LM.
Hukum Acara : Toba Vaison Siahaan, SH.,MH.
Hukum dan Kegiatan Ekonomi : Rr. Ani Wijayati, SH.,M.Hum.
Hukum, Pembangunan dan Masyarakat : Aartje Tehupeiory, SH.,MH.
Dasar-Dasar Ilmu Hukum : Elly AM. Pandiangan, SH.,MH

Sekretaris Pimpinan Fakultas : Lusiana Marianingsih, SH.,MH.

09 Juni 2009

PERPUSTAKAAN FH-UKI


Sebelum tahun 1987 Perpustakaan-perpustakaan Fakultas yang ada di lingkup Universitas Kristen Indonesia dikelola oleh fakultasnya masing-masing. Usaha pembentukan suatu perpustakaan Pusat dimulai dengan dijadikannya perpustakaan Fakultas Ekonomi sebagai pilot project dalam tahun 1987. Pilot project tersebut ternyata berhasil dengan baik, sehingga tahun-tahun berikutnya perpustakaan-perpustakaan Fakultas Hukum, Sastra, dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) bergabung ke dalamnya. Proses pertumbuhan Perpustakaan Pusat UKI ini kemudian menjadi lebih nyata dengan berintegrasinya perpustakaan Fakultas Teknik dan perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) pada tahun 1994, sehingga terwujud Perpustakaan Pusat seperti sekarang ini.Untuk dapat meningkatkan mutu layanan kepada seluruh civitas akademika UKI, maka sejak tahun 1995 telah dilakukan usaha-usaha ke arah pelayanan perpustakaan secara otomasi.

Visi dan Misi Perpustakaan

Universitas Kristen Indonesia mempunyai visi dan misi yang bersisi dua, yaitu sisi nasional dan sisi kekristenan yang menjadi satu kesatuan bulat dalam visi dan misi Universitas Kristen Indonesia.
Visi nasional adalah perwujudan masyarakat sejahtera, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila
visi kekristenan adalah terbentuknya dunia baru sesuai dengan kehendak, rencana, dan kasih Tuhan.
misi nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945
misi kekristenan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, pembaharuan, dan keesaan gereja melalui pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan dengan dasar moto "Melayani bukan dilayani".

Dengan demikian visi dan misi perpustakaan adalah mendukung visi dan misi Universitas Kristen Indonesia dengan cara menyediakan berbagai bahan dokumen dari berbagai sumber informasi sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan penelitian.

Keunikan dan ciri khas yang dimiliki Perpustakaan

Memiliki koleksi buku-buku tokoh terkenal sebagai pendiri/pembina UKI seperti: Bapak Prof. Dr. T.B. Simatupang, Bapak Dr. Yap Thiam Bien.

Struktur Organisasi

Kepala Perpustakaan bertanggung jawab kepada Rektor UKI melalui Pembantu Rektor I UKI.
Kepala Perpustakaan membawahi bidang-bidang:
1. Pelayanan teknis
2. Pelayanan Pengunjung
3. Otomasi
4. Tata Usaha
Bidang Pelayanan teknis membawahi sub seksi pengadaan dan sub seksi pengolahan bahan pustaka.
Bidang pelayanan pengunjung/jasa membawahi sub seksi sirkulasi dan sub seksi Referensi.

Organisasi

Perpustakaan bertanggung jawab kepada : Pembantu Rektor

Bagian-bagian perpustakaan

  • Pengadaan
  • Otomasi
  • Sirkulasi
  • Layanan Tugas Akhir
  • Pengolahan
  • Layanan Referensi
  • Layanan Seria

Gedung Perpustakaan Areal Perpustakaan

Lantai 1 : 1503 m²
Areal digunakan untuk Baca : 782 m²
Koleksi : 436 m²
Administrasi : 285 m²
Gedung didirikan pada tahun : 1987
Jumlah rak buku/serial : 102
Jumlah kursi baca : 231

PENDIDIKAN KHUSUS PROFESI ADVOKAT FHUKI

PENDIDIKAN KHUSUS PROFESI ADVOKAT
Kerjasama antara
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
dengan
DPN PERADI & DPP IKADIN JAKARTA

Pendidikan Khusus Profesi Advokat Fakultas Hukum UKl merupakan salah satu Pendidikan Profesi Advokat di Indonesia yang telah diakreditasl oleh PERADI berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) pada tanggal 16 mei 2005. Advokat sebagai profesi mulia (Officium Nobile) memerlukan keahlian khusus di dalam memainkan perannya sebagai penegak hukurn, sehingga protesi advokat dapat disejajarkan dengan profesi penegak hukum lainnya, seperti Hakim, Jaksa, dan Polisi . Karena itu Profesi Advokat rnerupakan profesi yang bebas dan mandiri serta bertanggung jawab. Dalam upaya mengembangkan sumber daya Advokat yang berkualitas dan membangun citra profesi yang mulia dimaksud, maka Pendklikan Khusus Protesi Advokat Fakutas Hukum UKI merupakan pilihan yang tepat bagi para lulusan pendidikan tinggi hukum, karena selama ini diyakini tetah berpengalaman dalam mengelola Pendidikan Khusus Profesi Advokat. Untuk menjamin kesiapan, kemandirian dan profesionalisme advokat, materi wajib yang disajikan sesuai dengan Kurikulum PERADI. Dalam rangka menhasilkan Advokat yang Profesional seperti tersebut diatas, maka berdasarkan Perjanjian Kerjasama Tanggal 12 Januari 2009 No. 001/PERADI-PKJS PKPA/I/09 yang ditanda tangani oleh Rektor UKI dan Ketua DPN PERADI/Ketua DPP IKADIN, maka PKPA Fakultas Hukum UKI membuka kembali pendaftaran PKPA angkatan pertama Tahun 2009, yang dimulai sejak sekarang hingga akhir Februari 2009, sedangkan pendidikan akan dilaksanakan dalam periode Maret-April 2009 (Pendidikan berlangsung antara 1-2 bulan).


Keunggulan di Bidang Proses Pembelajaran :

PKPA FH-UKI mempunyai pengalaman dalam melakukan proses pembelajaran atau pendidikan khusus Profesi Advokat, terbukti sejak ada pendidikan PKPA pada tahun 2005 sampai dengan sekarang, PKPA FH-UKI sudah melaksanakan 10 (sepuluh) angkatan, dan sudah mendidik sekitar 350-400 orang. Dari lulusan yg sudah didik, lebih dari 50% (lima puluh prosen) sudah lulus Ujian Advokat Nasional (UAN) yg diselenggarakan oleh PERADI dan sekarang sudah berprofesi sebagai Advokat yg profesioanal, dan mereka tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Perkuliahan diselenggarakan setiap hari kerja, antara hari Senin s.d Jumat, secara variatif, antara pukul 17.00 - 21.00 WIB dan setiap hari Sabtu dari pukul 10.00 s.d 17.00 Pemberian materi/bahan ajar dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan dialog dengan pendekatan terapan (applied approach).


Waktu Pendaftaran dan Pendidikan :
Pendaftaran: Mulai sekarang s.d Februari 2009
Pendidikan: Maret-April 2009

Tempat Pendidikan :
Ruang Seminar Fakultas Hukum UKI JI. Diponegoro No. 82 – 86 Jakarta Pusat (Depan RSCM)

Instruktur/Pengajar antara lain :
1.
Dr. Otto Hasibuan, SH.MM
2.
H. Fauzie Yusuf Hasibuan, SH.MH
3.
Prof. Dr. T. Gayus Lumbun, SH. MH
4.
Radisman Saragih, SH
5.
Thomas Tampubolon, SH.MH
6.
Prof. A. Masyhur Effendy, SH.MS
7.
Syamsul Ma'arif SH.LL.M.Ph.D
8.
Wirawan Adnan, SH.MH
9.
Dr. Untong O. Siahaan, SH.MH
10.
Chandra Yusuf, SH.LL.M.MBA.MMgt,, SH.MH
11.
Sri Mamudji, SH.MLL
12.
Basani Situmorang, SH, MH
13.
Prof.Dr. Yudha Bhakti A, SH.MH
14.
Binoto Nadapdap, SH.MH
15.
Dr. Petrus Irwan Panjaitan, SH.MH
16.
Max Boboy, SH.MH
17.
Anton Reinhart, SH,MH
18.
Lusiana. M. SH. M.Hum

Biaya :
a. Pendaftaran Rp. 100.000
b. Pendidikan Rp. 5.000.000

Syarat Peserta :
1.
Mengisi formulir pendaftaran di Sekretariat

2. Mengisi Formulir Pendaftaran secara online melalui website UKI dengan alamat: http://www.uki.ac.id/index.php/Pendaftaran-Pendidikan-Khusus-Profesi-Advokat-&-Konsultan-Hukum.html
2.
Ijazah Strata Satu Hukum sebagaimana dimaksud dalam “syarat pendidikan”
3.
Menyerahkan:
· Legalisir asli ijazah S-1
· Pasphoto berwarna ukuran 2 x 3, 3 x 4 dan 4 x 6 masing-masing 4 lembar
4.
Fotokopi KTP

Cara Pembayaran :

Melalui transfer rekening, Bank Mandiri Kantor Kas RSCM nomor : 122.00.0492540.3 a/n Dr. Bernard S.M. Hutabarat, PAK dan Radisman Saragih, SH (Manajer Keuangan PKPA FH. UKI) atau membayar langsung ke Sekretariat PKPA (Radisman Saragih, SH., atau staf)


Fasilitas yang diberikan kepada peserta :
1.
Bahan-bahan pelatihan
2.
Ruangan yang nyaman dilengkapi dengan LCD, Lap Top, OHP di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia
3.
Konsumsi (snack, pada hari Rabu dan Kamis sedangkan pada hari Jum'at dan Sabtu disediakan makan siang)
4.
Sertifikat dari PERADI dan Surat Keterangan dari Fakultas Hukum UKI

Sekretariat :
Fakultas Hukum UKIJI. Diponegorto No. 82 – 86 Jakarta Pusat (depan RSCM) Telp. (021) 70798286, (021) 68263273, (021) 68354333, 0813 8353 2393, 0813 8153 1958, Fax. 021-3904462
Email : radisman.fh@uki.ac.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

radismansaragihsumbayak@yahoo.com

08 Juni 2009

SEJARAH SINGKAT UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA


Tidak lama setelah kemerdekaan Republik Indonesia (1945), beberapa tokoh nasional yang juga adalah pemuka-pemuka Kristen Indonesia tergerak dan merasa perlu untuk mendirikan Dewan Gereja di Indonesia (DGI). Harapan tersebut baru terlaksana pada tanggal 25 Mei 1950. Di awal kegiatannya, lembaga ini juga telah memberikan perhatian yang cukup besar pada masalah pendidikan, karena ketika itu bangsa Indonesia sangat memerlukan sumber daya manusia untuk mengisi lapangan kerja dalam berbagai aspek kehidupan. Dan kebutuhan ini bersifat mendesak.
Pemikiran akan inginnya masyarakat Kristen Indonesia untuk turut berpartisipasi dalam dunia pendidikan, terus berkembang dalam diskusi-diskusi yang terjadi di lembaga ini. Bahkan dipikirkan pula akan perlunya mendirikan sebuah “universiteit”. Atas dasar itulah maka DGI membentuk suatu komisi yang dipimpin oleh Prof. Dr. I.P. Simandjuntak MA. Komisi ini bertugas membuat suatu studi kelayakan untuk mendirikan universitas. Hasilnya dilaporkan kepada DGI. Sebagai tindak lanjutnya, DGI mengeluarkan resolusi mengenai Universiteit Kristen pada tanggal 30 Juni 1953. Resolusi, yang ditandatangani oleh Ds. W.J. Rumambi selaku Sekretaris Umum DGI dalam Sidang lengkap DGI dari tanggal 20 s/d 30 Juni 1953, mengusulkan kepada semua gereja dan masyarakat Kristen di Indonesia untuk membantu sepenuhnya pendirian Universiteit Kristen, baik secara moril maupun materiel.

Beranjak dari resolusi tersebut, maka tokoh-tokoh Kristen Indonesia, yakni Mr. Todung Sutan Gunung Mulia, Mr. Yap Thiam Hien, Benjamin Thomas Philip Sigar, atas nama gereja-gereja yang tergabung dalam DGI, mendirikan Yayasan Universitas Kristen Indonesia dihadapan notaris Raden Kadiman, dengan nomor akte 117, tertanggal 18 Juli 1953. Anggota Yayasan kemudian diperbesar dengan kehadiran Elviannus Katoppo, Ong Jan Hong MD, Aminudin Pohan MD, Seri Condar Nainggolan MD, Benjamin Prawirohadmodjo, Pdt. Komarlin Tjakraatmadja, Gerrit Siwabessy MD, Tan Tek Heng, dan J.C. Simorangkir. Tiga bulan kemudian, yaitu pada tanggal 15 Oktober 1953, diresmikanlah Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang terdiri dari (a) Fakultas Sastra dan Filsafat dengan sub-sub fakultasnya adalah Pedagogik dan Sastra, dan (b) Fakultas Ekonomi. Ketika itu, perkuliahan dan kegiatan administrasi masih berlangsung di gedung HSK, yang terletak di Jalan Diponegoro 86, dan di 3 buah flat di Jalan Salemba 10. Di dalam perjalanan pengabdiannya, didirikanlah Fakultas Hukum (1956), Fakultas Kedokteran (1962), Fakultas Teknik (1963), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (1995).



FAKULTAS HUKUM


Pada era inilah berbagai undang undang yang bersifat reformis dan demokratis di bentuk. Maka tidak berlebihan jika Rra Reformasi di sebut sebagai ERA HUKUM, era hukum ini memberikan kesempatan kepada sarjana hukum untuk menduduki jabatan dan posisi penting dalam Negara Republik Indonesia. Saat ini, semua instansi pemerintah dari pusat hingga tingkat kabupaten atau kota membutuhkan Sarjana Hukum yang profesional, dengan demikian pula hampir semua perusahaan swasta dan lembaga perbankan memerlukan Sarjana Hukum. Fenomena ini membuktikan bahwa saat ini seorang Sarjana Hukum tidak terbatas bekerja hanya sebagai Hakim, Jaksa dan Pengacara. Artinya seorang Sarjana Hukum mempunyai peluang kerja yang besar pada semua sektor.

Jurusan dan Program Studi

Istilah jurusan pada Fakultas Hukum UKI telah dihapuskan sejak dikeluarkan SK Mendikbud no. 0325/U/1994 dan digantikan dengaN Program Studi. Saat ini Fakultas Hukum UKI mempunyai satu program studi yaitu Ilmu Hukum yang terdiri dari 5 Program Kekhususan dengan 8 bagian. Lima Program Kekhususan tersebut adalah :

  1. Program Kekhususan Hubunagn Sesama Anggota Masyarakat (Hukum Perdata)
  2. Program Kekhususan Penanggulangan Kejahatan (Hukum Pidana)
  3. Program Kekhususan Hubungan Negara dan Masyarakat (Hukum Administrasi Negara)
  4. Program Kekhususan Hubungan Ketatanegaraan dan Masyarakat (Hukum Tatanegara)
  5. Program Kekhususan hubungan Trans Nasional (Hukum Internasional)
Delapan Bagian yang dimaksud adalah :

  1. Bagian Dasar Hukum Negara
  2. Bagian Hukum Perdata
  3. Bagian Hukum Pidana
  4. Bagian Hukum Tata Negara
  5. Bagian Hukum Administrasi Negara
  6. Bagian Hukum Internasional
  7. Bagian Hukum Masyarakat
  8. Bagian Hukum Acara

Lama Studi

Untuk mendapatkan gelar S1 Ilmu hukum (Sarjana Hukum) seorang mahasiswa diwajibkan menyelesaikan 154 sks. Beban sks ini terdistribusi sebagai berikut : 79 kredit kurikulum inti (kurikulum nasional), 57 kredit kurikulum iinstitusional dan, 18 kredit mata kuliah pilihan program kehususan. Total beban sks ini dapat diselesaikan dalam kurun waktu 7 – 8 semester ( 4 tahun )

Tenaga pengajar

Untuk menciptakan lulusan Sarjana Hukum yang tinggi ilmu, tinggi iman, dan tinggi pengabdian. Susunan tenaga pengajar ditata sesuai dengan kepakarannya dan semua mata kuliah utama diasuh oleh Doktor (S3) dan profesor. Tenaga Pengajar lainnya memegang gelar minimal S2 atau Lektor Kepela.

Keunggulan Fakultas Hukum UKI

  1. Kampus Fakultas Hukum UKI terletak di kawasan strategis jl. Diponegoro, Salemba, yang mudah dicapai dari segala jurusan dengan berbagai jenis kendaraan umum termasuk Busway.
  2. Adanya lembaga kemahasiswaan. Antara lain kegiatan ekstrakurikuler mencakup nalar (Seminar, Study, Group), Minat dan Bakat ( Olah raga ), Seni (Paduan suara, Vocal Group). Disamping itu, Fakultas Hukum UKI mempunyai tiga Unit Kegiatan Mahasiswa yaitu:

(a) Persekutuan Mahasiswa.

(b) Forum Diskusi Ilmiah

(c) Kelompok Pencinta Alam Himapala C’Mara Buana

  1. Kampus yang artistik dan menarik, dilengkapi dengan ruangan yang full AC.
  2. Perpustakaan yang lengkap.
  3. Kampus jl. Diponegoro dilengkapi pula dengan sarana olah raga
  4. Tersedia Pusat Bantuan Hukum.
  5. Adanyan Laboratorium Hukum
  6. Adanya Pusat Penelitian Hukum.

Kelas sore

Fakultas Hukum UKI membuka juga kelas paralel sore hari. Khusus kelas ini perkuliahan, pelayanan administrasi, dan ujian – ujian dilaksanakan pada sore hari hingga malam hari. Program ini bertujuan untuk menampung mereka yang sudah bekerja baik di instansi Pemeritah, Kepolisian, TNI maupun Karyawan Swasta atau Umum.

Program Pendidikan Khusus Profeso Advokat dan Konsultan Hukum

Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia bekerjasamadengan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dan DPP IKADIN untuk menyelenggarakan Pendidikan Khusus Profesi Advokat dan Konsultan Hukum. Program ini terbuka bagi para sarjana hukum baik tingkat S1, S2, S3 yang berminat menjadi praktisi hukum profesional di bidang advokasi dan konsultan hukum. Pendidikan khusus advokat ini adalah syarat mutlak untuk mendapatkan izin praktekadvokasi sesuai dengan undang-undang RI No. 18 tahun 2003. Materi perkuliahan program ini dengan kurikulum yang disusun sedemikian rupa, sehingga peserta mampu menghadapi ujian advokat. Program ini dilaksanakan di kampus UKI jalan Diponegoro, Jakarta pusat. Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi :

Sekretariat Fakultas Hukum UKI, jl. Diponegoro 82-86, Jakarta Pusat,

Tel (021) 7079 8286, (021) 6826 3273, (021) 6835 4333,

Fax (021) 390 4462